Tauhid: Inti Dakwah Para Rasul, Bagian 2

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

PERTAMA: Kufur kepada Thaghut

Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya kewajiban pertama yang Allah fardhukan atas anak Adam adalah kufur terhadap thaghut dan iman kepada Alah Subhanahu Wa Ta’ala sebagaimana yang Dia firmankan:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat itu seorang rasul (mereka mengatakan kepada kaumnya): Ibadahlah kepada Allah dan jauhi thaghut” (An Nahl: 36)

Perintah kufur terhadap thaghut dan iman kepada Allah adalah inti dari ajaran semua rasul dan pokok dari Islam. Dua hal ini adalah landasan utama diterimanya amal shalih, dan keduanyalah yang menentukan status seseorang apakah dia itu muslim atau musyrik, Allah Ta’ala berfirman:

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا

“Siapa yang kufur terhadap thaghut dan beriman kepada Allah, maka dia itu telah berpegang teguh kepada buhul tali yang sangat kokoh (laa ilaaha ilallaah)” (Al Baqarah: 256)

Bila seseorang beribadah dengan menunaikan shalat, zakat, shaum, haji dan sebagainya, akan tetapi dia tidak kufur terhadap thaghut, maka dia itu bukan muslim dan amal ibadahnya tidak diterima. Continue reading

Tauhid: Inti Dakwah Para Rasul

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Segala puji hanya milik Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya dan para shahabat.

Saat ini kita akan bersama-sama mengkaji Tauhid dan materi pertama yang akan kita bahas adalah berkenaan dengan muqaddimah yang sangat penting, yang mana dari muqaddimah ini kita akan mengetahui betapa besar kedudukan tauhid dibandingkan dengan amal-amal yang lainnya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengatakan dalam surat , :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku” (QS. Adz Dzaariyaat [51]: 56

Jadi tujuan kita diciptakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan hidup di dunia ini adalah dalam rangka mengabdi kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala bukan mengabdi kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kita sebagai hamba Allah, tentu kita adalah abdi bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan kita hanya menghambakan diri dan mengabdikan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Continue reading

By Islamic Department of Defense Posted in Islamologi

Wabah pluralisme menjangkiti Islam di Indonesia

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kini tidak sedikit umat Islam di Indonesia yang telah teracuni virus Pluralisme dengan menganggap semua agama memiliki kebenaran yang sama, lalu tak lagi meyakini kemutlakan Islam sebagai satu – satunya agama yang diterima di sisi Allah SWT. Yang sunggunh memprihatinkan, paham seperti itu juga di kampanyekan oleh orang – orang yang mengaku dirinya sebagai Muslim. Padahal Allah SWT telah berfirman yang sebagaimana Islam sebagai kebenaran tunggal adalah kepastian:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ

Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam“. (QS. Ali Imran, 3:19)

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi“. (QS. Ali Imran, 3:85)

Ayat tersebut jelas menyatakan hanya Islam dien yang di terima di sisi Allah SWT. Dengan kata lain, agama, kepercayaan, filsafat, konsep spiritual, maupun tatanan moralitas selain Islam kelak di Akhirat akan merugi, alias bakal diterima di neraka yang menyala – nyala. Islamlah satu – satunya agama yang benar. Namun  kebenaran itu tengah di utak atik, di recoki, direkaya dengan paham Pluralisme yang menyatakan bahwa semua agama sama benarnya. Islam sebagai kebenaran mutlak hanya di pandang sebagai “klaim kebenaran” (Truth Claim) yang diajukan kaum Muslim, bukan wahyu Allah. Sementara “Klaim kebenaran” dianggap sebagai biang konflik horisontal atas nama agama, maupun pemicu sikap ekstrim, radikal dan terorisme.

Continue reading